Dinda,mau ikut gak acara makan makan bareng fikri??
Yah lagi gak ada duit divi?hehe,, mang mau makan makan dimana?
Tenang aja ga usah bayar kn di traktir Fikri. Niatnya mau makan di Blok M.
Oh oke Divi, insyaallah saya usahakan. Mang cpa aja yang ikut?
Sip,usahakan bisa.Cuma aq,qmu,Nae,Tama,Icha dan Fikri
Ya divi,loh koq Cuma berenam saja?
Vi ga tau,,,
Sejenak aku berfikir dengan tawaran Divi,kuhentikan lagu itu. Dan aku rebahkan diriku pada sebuah kasur empuk dengan ditemani kipas yang bergoyang goyang. Tak lama aku malah tertidur.
Rasa penasaranku masih berbayang,karena akhir akhir ini aku dan fikri tidak pernah satu pendapat, selalu ada yang membatasi kedekatan kami karena pemikiran yang beda. Tetapi sekarang malah aku bingung kenapa bisa dia mengajak aku? Dan apakah tujuan Fikri mengajak aku dan teman teman makan? Aku tanyakan kepada Tama,aku kirimkan sebuah sms ke dia.
Tama,qmu di jak ma Fikri g??yang acara makan makan tu??
Ya,Dinda aq diajak,,qmu jg kan??
Ya tama,tapi buat apa fikri ngajak qta2.. aku jg knp d’ajak..
Tuh loh dinda,fikri kan mau k’Batam,truz dia ajak tmn2’a makan2..
Oh oke tama,qmu iqut g??
Ya aq iqut,, qmu iqut y??
Insyaallah aq blom tanya ma umi blh g kluar rmh..
Ya sip deh..
Malam yang sunyi ditemani suara jangkrik yang sedang bernyanyi indah. Lantunan melodinya sangat menyejukan hati. Ditemani seorang ibu dan televisi saja , sulit bagi diri ku untuk meminta izin keluar rumah. Apalagi aku harus meminta izin untuk acara yang mungkin bagi ibuku hanya menghabiskan uang saja. Beliau tak sedikit pun pernah mengizinkan aku untuk keluar rumah dalam hal yang tak berguna,kecuali belajar. Baru lah aku di izinkan jika niat aku adalah belajar bersama teman. Tetapi untuk yang satu ini terasa berat sekali. Dan pada akhirnya aku beranikan niat ku untuk bertanya.
“Umi,boleh tidak Dinda pergi besok?” kata ku.
“Memang ada acara apa?” sahut umi.
“Acara perpishan Fikri,dia mau peri ke Batam dan pindah sekolah. Jadi buat yang terakhir kalinya dinda,Tama,Nae,Divi dan Icha mau mengadakan acara itu. Boleh ya Umi?” kata ku.
“Iya boleh!”sahut umi.
Dengan seiring senyum yang keluar dari pancaran mata ku.Betapa senangnya hati ini. Waktu sudah menunjukan tepat pukul jam11.05 menit. Ku rebahkan badanku di atas kasur tempat tidur,dan ku letakkan ponselku di samping bantal. Tidak lama ponselku bergetar,seketika aku terkejut siapa yang sms mala-malam seperti ini? Sejenak ku bertanya-tanya. Dan ku buka ternyata itu sms dari my best Friend,Tama.
Dinda,dah tidur blom?? Din,aq takut klo s’andainya masuk ips?? Klo aku smp masuk ips gimna din?
Ah,tama jangan mong gitu donk!! Aq yakin tama masuk ipa!! Dan gk mungkin lah tama masuk ips.. poko’a qmu gk boleh bilang itu gy y??
Yah,aq tau din,,tapi susah wat aq ndri.klo bnr aq masuk ips pasti semua cita-cita aq musnah.. L
Ya Allah,,tama jangan mong gitu donk,,qmu bikin hati + pikiran aq gk tenang!! Aq yakin qmu masuk ipa. Dan aq yakin cita-cita qmu gk akan musnah!!Kata capa qmu masuk ips???
Iya dinda,, aq takut bgt klo ternyata bnr aq masuk ips. Dan aq harap jg kaya gitu. Cita-cita aq gk kan musnah.. dah dlu ya aq mau tidur.met malem..
Iya met malem my Best Friend. Udah yakin dan percaya aja.. bye
Pikiranku melayang memikirkan apa yang telah diucapkan Tama. Tak kan bisa ku bayangkan jika dia masuk IPS. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan salah satu jurusan yang bernama IPS itu,tetapi disini yang ku khawatirkan adalah Apa harus cita-cita Tama untuk bisa bekerja di Penerbangan harus kandas?
Tak bisa ku pejamkan mata ini,walau sudah memerah karena tidak tidur. Tetapi tetap saja pikiranku masih terfokus dengan Tama. Dua hari lagi tepatnya,hari Sabtu,Tanggal 26 Juni 2010, sekolah akan membagikan rapot bertepatan juga dengan keluarnya pengumuman kejuruan. Hal itulah yang menyebabkan ketakutan pada diri setiap siswa SMA,termasuk aku,Tama,Divi,Nae,Fikri,dan sebagian teman teman sekelas aku. Pukul 3 pagi ku lantunkan dzikir supaya aku bisa tertidur lelap. Mungkin Tuhan mendengarnya,tak lama aku tertidur.
Bunyi alarm tepat jam 9,telah membangunkan diriku rasa malas yang mendera jiwa pun timbul. Ingin rasanya aku tidur kembali,tetapi sayangnya aku ingat sebuah janji. Janji untuk my Best Friend,Fikri tepat jam 10. 1 jam bukanlah waktu yang lama bagi ku. Segera cepat cepat ku siapkan diri.
Untung saja sudah selesai,ku dengar ada suara motor mengarah ke depan rumah ku biyar ku tebak pasti itu Naely Izzati. TEPAT!! Nae datang dengan sebuah helm yang agak kebesaran berwarna merah. Dengan lugunya Nae menggunakan helm,tak ada rasa risih,tetapi itulah Nae yang sampai sekarang ku sukai sifat polosnya. Tepat jam 10,aku bersama nae mengendarai motor menuju rumah Tama.
Sesampainya di sana aku,Tma,Fikri,Nae,Divi dan Icha siap untuk berangkat. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk kami merasakan kesenangan bersama Fikri. Tidak lama lagi mungkin 5 hari lagi dia akan tinggal di Jakarta,karena Fikri akan pindah sekolah dan menetap di Batam. Perpisahan bukan lah hal yang buruk melainkan hanya terpisah ruang dan waktu. Aku yakin suatu saat nanti bisa bertemu dia. Ketika sedang berjalan untuk mendapatkan angkot,aku menanyakan rasa penasaran tentang apa yang di bilang tama tadi malam.
“Tama,kata siapa kamu masuk IPS??” kata ku,dengan muka penasaran.
“Huuuh (menghela napas), tapi janji jangan bilang siapa-siapa??” sahut Tama,sedikit murung.
“Iya janji,cepet tama! Kata siapa??” desak ku.
“Kata Pak Yasan, Dinda. Kemaren Pak Yasan telepon ke rumah dan dia minta berbicara sama Papa, Katanya Pak Yasan aku masuk IPS! Huuuh.. ” kata tama.
Aku tahu kesedihan Tama karena dia adalah My Best Friend. Rasa kecewa pasti ada tetapi kalau terus terpuruk gimana mau maju. Sekilas hati ku berkata.
“Ah,gk mungkin tama!! Mang hasilnya sudah keluar apa??Sok tahu Pak Yasan, tidak sepantasnya dia berkata seperti itu. Apa dia tidak mikir perasaan orang!! ” sahut ku dengan rasa geram.
“kalau seandainya bener gimana,Dinda? Mungkin aja sikap Pak Yasan baik,toh dia hanya ingin menyapaikan sesuatu hal yang baik.” sahut fikri.
“hah! Baik. Seorang guru yang baik pasti ngerti gimana perasaan seseorang jika harapan tidak sesuai keinginan?? Apa dia tak puna perasaan??” jawab ku.
Perbedaan pendapat selalu terjadi antara aku dan Fikri. Jadi tak heran lah, karena menghormati dia ku berhenti berbicara. Mencoba menjaga susana yang tenang dan tidak ada masalah.
Perjalanan pun berlanjut sampai ke Blok M, tujuan untuk hari itu adalah untuk nonton bioskop dan makan makan bersama Fikri. Sesampainya di sana kami memilih film,perbedaan pun terjadi lagi dan demi menjaga suasana di sana maka kami memvoting film apa yang sebaiknya di tonton. Dan akhirnya kami pilih film “Tanah Air Beta”. Film yang menurut aku pribadi sangatlah bagus,baik dari segi tempat maupun alur ceritanya. Film dimana mengajarkan seseorang anak berjuang demi bertemu seorang kakak yang telah pisa selama 15 tahun lamanya walau di terpa konflik yang terjadi di daerahnya. Mungkin itu yang dapat aku sampaikan.
Setelah nonton kami pun solat dzuhur dan berlanjut ke acara makan di Pizza Hut. Kami sangatlah senang kebaikan hati dan rasa kebersamaan membuat kami merasa seperti telah disatukan hati maupun perasaan untuk bisa bersatu dalam waktu yang telah di berikan Tuhan. Pesanan pun datang dang habis kami lahab hanya senyum dan tawa yan g tersisa.
Akhirnya hari pun usai di selingi suara adzan ashar yang berkumandang dan kami putuskan untuk pulang, dengan di naikinya metro 69 yang melaju dari Blok M ke Tanggerang.
Tepat pukul 5 sore,ketika matahari mulai terbenam dan lantunan dzikir telah di lantunkan. Kami sampai di rumah taa, dan aq, Divi, Icha ,Nae dan Fikri kepada kedua orang tama. Entah aku tidak tahu sampai sampai orang tuanya mengenali diriku dan Divi. Walaupun aku tahu kami baru bertemu sekali. Adzan Maghrib berkumandang,setelah itu kami pamit umtuk pulang.
Seharusnya hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi aku,tapi tak bisa ku pungkiri hari dan perasaan ku melayang. Terlebih pikiranku yang terfokus dengan masalah Tama dan perpisahan Fikri. Yang mungkin bisa jadi itu adalah hari terakhir aku melihatnya di Jakarta.
Bersambung... ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar